Langsung ke konten utama

Kopi, Lukisan, Kenangan


Lihat..
Tepat setelah lampu-lampu di padamkan
Kau menyala sebagai satu-satunya yang aku rindukan

Disini..
Di tempat yang paling kamu hindari, aku pernah berdiri
Menggores kata menulis warna
Pada ratapan panjang yang menguat dalam dinding kecemasan
Aku mengisahkan kenangan di kepasrahan yang begitu lapang

Retak berserakan, tanpa kediaman
Terkoyak sepi, melayang di antara pekat aroma kopi

Dengar..
Tepat setelah jejak-jejak di langkahkan
Kau menyapa sebagai satu-satunya yang ku nantikan
Disini..
Di peluk yang pernah kau nikmati, aku masih sendiri
Mencari kehilangan, menemui perpisahan

Pada letupan kenang yang memuat kekosongan
Aku membicarakann senyummu di keindahan yang telah hilang
Hancur berkeping, tersapu kesunyian, terinjak lara
Terlarut dalam pahit di seduh air mata

Tunggu..
Santailah sejenak..
Karna tepat setelah meja-meja di tinggalkan
Kedai ini menyesak sebagai satu-satunya keterangan

Satu kisah yang pernah kita upayakan
Beribu rencana yang pernah kita perjuangkan, LENYAP !!
Kau memutuskan berpindah hati, sebelum satu persatu rencana berhasil di wujudkan

Menggores kesadaran, menyayat perasaan
Pada setiap kata yang memuat pertanyaan
Aku mencari kau yang aku rindukan
Aku menyapa kau yang aku nantikan

Aku mencari..
Aku menyapa..
Aku menanti..
Aku merindu..
Aku terisak..
Aku menunggu..
Hadirmu

Dan kini..
Satu-satunya yang tersisa hanyalah goresan yang aku buat sebahagai prasasti kesendirian
Kapanpun sunyi merasuk jiwamu, kemarilah
Pesan kopi terpahit dengan kenangan termanismu
Genggam kesedihanmu sebagi duka paling bahagia

Dan bila hatimu butuh di dengarkan
Temui aku dalam perbincangan
Niscaya kopi yang kau pesan
Tak akan sepahit kehilangan


Karya-Wira Nagara

Komentar

Paling Banyak Dibaca

Subuh

Kalau subuh kedengaran tabuh Semua sepi sunyi sekali Bulan seorang tertawa terang Bintang mutiara bermain cahaya Terjaga aku tersentak duduk Terdengar irama panggilan jaya Naik gembira meremang roma Terlihat panji terkibar di muka Seketika teralpa; Masuk bisik hembusan setan Meredakan darah debur gemuruh Menjatuhkan kelopak mata terbuka Terbaring badanku tiada berkuasa Tertutup mataku berat semata Terbuka layar gelanggang angan Terulik hatiku di dalam kelam Tetapi hatiku, hatiku kecil Tiada terlayang di awang dendang Menanggis ia bersuara seni Ibakan panji tiada terdiri. Karya Asrul Sani

Sajak Tafsir

Kau bilang aku burung? Jangan sekali-kali berkhianat kepada sungai, ladang, dan batu. Aku selembar daun terakhir yang mencoba bertahan di ranting, yang membenci angin. Aku tidak suka membayangkan keindahan kelebat diriku yang memimpikan tanah Tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku ke dalam bahasa abu. Tolong tafsirkan aku sebagai daun terakhir, agar suara angin yang meninabobokan ranting itu padam. Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu. Tolong ciptakan makna bagiku, apa saja Aku selembar daun terakhir yang ingin menyaksikanmu bahagia Ketika sore tiba. Karya Sapardi Djoko Damono