Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Joko Pinurbo

Di Bawah Kibaran Sarung

Di bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidur ke haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur yang baka. Tidur yang dijaga dan disambangi seorang lelaki kurus dengan punggung melengkung, mata yang dalam dan cekung. “Hidup orang miskin!” pekiknya sambil membentangkan sarung. “Hidup sarung!” seru seorang perempuan, sahabat malam, yang tekun mendengarkan hujan. Lalu ia mainkan piano, piano tua, di dada lelaki itu. “Simfoni batukmu, nada-nada sakitmu, musik klasikmu, mengalun merdu sepanjang malam,” hibur perempuan itu dengan mata setengah terpejam. Di bawah kibaran sarung rumah adalah kampung. Kampung kecil di mana kau bisa ngintip yang serba gaib. kisah senja, celoteh cinta, sungai coklat, dada langsat, parade susu, susu cantik dan pantat nungging yang kausebut nasib. Kampung kumuh di mana penyakit, onggokan sampah, sumpah serapah, mayat busuk, anjing kawin, maling mabuk, piring pecah, tikus ngamuk, timbunan tinja adalah tetangga. ...

Mata Air

Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering. Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan. Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing, pecah di padang-padang gersang. Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mataair yang tak pernah mati itu. Mereka ramai-ramai menuai air membuncah-buncah, menuai airmata yang mereka tanam di ladang-ladang karang. Bulan sering turun ke sendang itu, menemani gadis kecil yang suka mandi sendirian di situ. Langit sangat bahagia tapi belum ingin meneteskan airmata. Nanti, jika musim hujan tiba, langit akan memandik Karya Joko Pinurbo