Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering. Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan. Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing, pecah di padang-padang gersang. Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mataair yang tak pernah mati itu. Mereka ramai-ramai menuai air membuncah-buncah, menuai airmata yang mereka tanam di ladang-ladang karang. Bulan sering turun ke sendang itu, menemani gadis kecil yang suka mandi sendirian di situ. Langit sangat bahagia tapi belum ingin meneteskan airmata. Nanti, jika musim hujan tiba, langit akan memandik Karya Joko Pinurbo
Sebuah blog untuk mengumpulkan beberapa puisi atau sajak yang saya sangat sukai dari beberapa penulis. Dan juga berisikan beberapa coretan kecil saya sendiri