Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Wiji Thukul

Tentang Sebuah Gerakan

Tadinya aku pingin bilang Aku butuh rumah Tapi lantas kuganti Dengan kalimat SETIAP ORANG BUTUH TANAH Ingat: Setiap orang Aku berpikir Tentang sebuah gerakan Tapi mana mungkin Aku nuntut sendirian Aku bukan orang suci Yang bisa hidup dari sekepal nasi Dan air sekendi Aku butuh celana dan baju Untuk menutup kemaluanku Aku berpikir Tentang sebuah gerakan Tapi mana mungkin Kalau diam Karya Wiji Thukul

Bunga Dan Tembok

Seumpama bunga Kami adalah bunga yang tak Kau hendaki tumbuh Engkau lebih suka membangun Rumah dan merampas tanah Seumpama bunga Kami adalah bunga yang tak Kau kehendaki adanya Engkau lebih suka membangun Jalan raya dan pagar besi Seumpama bunga Kami adalah bunga yang Dirontokkan di bumi kami sendiri Jika kami bunga Engkau adalah tembok itu Tapi di tubuh tembok itu Telah kami sebar biji-biji Suatu saat kami akan tumbuh bersama Dengan keyakinan: Engkau harus hancur !!! Dalam keyakinan kami Di manapun – TIRANI HARUS TUMBANG !!! Bunga Dan Tembok Karya Wiji Thukul

Peringatan

Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik-bisik Ketika membicarakan masalahnya sendiri Penguasa harus waspada dan belajar mendengar Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gasat Dan bila omongan penguasa Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan DItuduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: LAWAN !!!!! Peringatan Karya Wiji Thukul

Dibawah Selimut Kedamaian Palsu

Apa gunanya ilmu Kalau hanya untuk mengibuli Apa guna baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu Dimana-mana moncong senjata Berdiri gagah Kongkalikong Dengan kaum cukong Di desa-desa Rakyat dipaksa Menjual tanah Tapi, tapi, tapi, tapi Dengan harga murah Apa guna baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu Karya Wiji Thukul

Hari Itu Aku Akan Bersiul-Siul

Pada hari coblosan nanti Aku akan masuk ke dapur Akan kujumlah gelas dan sendokku Apakah jumlahnya bertambah Setelah pemilu bubar? Pemilu oo… pilu, pilu Bila hari coblosan tiba nanti Aku tak akan pergi ke mana-mana Aku ingin di rumah saja Mengisi jambangan Atau menanak nasi Pemilu oo… pilu, pilu Nanti akan kuceritakan kepadamu Apakah jadi penuh karung beras Minyak tanah Gula Atau bumbu masak Setelah suaramu dihitung Dan pesta demokrasi dinyatakan selesai Nanti akan kuceritakan kepadamu Pemilu oo… pilu, pilu Bila tiba harinya Hari coblosan Aku tak akan ikut berbondong-bondong Ke tempat pemungutan suara Aku tidak akan datang Aku tidak akan menyerahkan suaraku Aku tidak akan ikutan masuk Ke kotak suara itu Pemilu oo… pilu, pilu Aku akan bersiul-siul Memproklamasikan kemerdekaanku Aku akan mandi Dan bernyanyi sekeras-kerasnya Pemilu oo… pilu, pilu Hari itu aku akan mengibarkan hakku Tinggi , tinggi Akan kurayakan dengan n...

(Tanpa Judul)

Kuterima kabar dari kampung Rumahku kalian geledah Buku-bukuku kalian jarah Tapi aku ucapkan banyak terima kasih Karena kalian telah memperkenalkan Sendiri Pada anak-anakku Kalian telah mengajar anak-anakku Membentuk makna kata penindasan Sejak dini Ini tak diajarkan di sekolahan Yapi rezim sekarang ini memperkenalkan Kepada kita semua Setiap hari di mana-mana Sambil nenteng-nenteng senapan Kekejaman kalian Adalah bukti pelajaran Yang tidak pernah ditulis Karya Wiji Thukul

Puisi Untuk Adik

Apakah nasib kita akan terus seperti Sepeda rongsokan karatan itu? O… tidak, dik! Kita akan terus melawan Waktu yang bijak bestari Kan sudah mengajari kita Bagaimana menghadapi derita Kitalah yang akan memberi senyum Kepada masa depan Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan Kita akan terus bergulat Apakah nasib kita akan terus seperti Sepeda rongsokan karatan itu? O… tidak, dik! Kita harus membaca lagi Agar bisa menuliskan isi kepala Dan memahami dunia Puisi Untuk Adik Karya Wiji Thukul