Langsung ke konten utama

Postingan

Sajak Kecil Untuk Bii

Mencintai mu bukan sebuah pilihan bagiku Menyayangi mu sudah tertulis dalam takdir hidup ku Walau tak seindah harmoni cinta yang semestinya Tapi percayalah.. Semua cinta ini ada.. Terus berbunga.. Dan akan berlipat ganda.. Karya Indra Bayu
Postingan terbaru

Tentang Sebuah Gerakan

Tadinya aku pingin bilang Aku butuh rumah Tapi lantas kuganti Dengan kalimat SETIAP ORANG BUTUH TANAH Ingat: Setiap orang Aku berpikir Tentang sebuah gerakan Tapi mana mungkin Aku nuntut sendirian Aku bukan orang suci Yang bisa hidup dari sekepal nasi Dan air sekendi Aku butuh celana dan baju Untuk menutup kemaluanku Aku berpikir Tentang sebuah gerakan Tapi mana mungkin Kalau diam Karya Wiji Thukul

Bunga Dan Tembok

Seumpama bunga Kami adalah bunga yang tak Kau hendaki tumbuh Engkau lebih suka membangun Rumah dan merampas tanah Seumpama bunga Kami adalah bunga yang tak Kau kehendaki adanya Engkau lebih suka membangun Jalan raya dan pagar besi Seumpama bunga Kami adalah bunga yang Dirontokkan di bumi kami sendiri Jika kami bunga Engkau adalah tembok itu Tapi di tubuh tembok itu Telah kami sebar biji-biji Suatu saat kami akan tumbuh bersama Dengan keyakinan: Engkau harus hancur !!! Dalam keyakinan kami Di manapun – TIRANI HARUS TUMBANG !!! Bunga Dan Tembok Karya Wiji Thukul

Di Dalam Kelam

Kalau subuh kedengaran tabuh Semua sepi sunyi sekali Bulan seorang tertawa terang Bintang mutiara bermain cahaya Terjaga aku tersentak duduk Terdengar irama panggilan jaya Naik gembira meremang roma Terlihat panji terkibar di muka Seketika teralpa; Masuk bisik hembusan setan Meredakan darah debur gemuruh Menjatuhkan kelopak mata terbuka Terbaring badanku tiada berkuasa Tertutup mataku berat semata Terbuka layar gelanggang angan Terulik hatiku di dalam kelam Tetapi hatiku, hatiku kecil Tiada terlayang di awang dendang Menanggis ia bersuara seni Ibakan panji tiada terdiri. Karya Asrul Sani

Subuh

Kalau subuh kedengaran tabuh Semua sepi sunyi sekali Bulan seorang tertawa terang Bintang mutiara bermain cahaya Terjaga aku tersentak duduk Terdengar irama panggilan jaya Naik gembira meremang roma Terlihat panji terkibar di muka Seketika teralpa; Masuk bisik hembusan setan Meredakan darah debur gemuruh Menjatuhkan kelopak mata terbuka Terbaring badanku tiada berkuasa Tertutup mataku berat semata Terbuka layar gelanggang angan Terulik hatiku di dalam kelam Tetapi hatiku, hatiku kecil Tiada terlayang di awang dendang Menanggis ia bersuara seni Ibakan panji tiada terdiri. Karya Asrul Sani

Hari Menuai

Lamanya sudah tiada bertemu Tiada kedengaran suatu apa Tiada tempat duduk bertanya Tiada teman kawan berberita Lipu aku diharu sendu Samar sapur cuaca mata Sesak sempit gelanggang dada Senak terhentak raga kecewa Hibuk mengamuk hati tergari Melolong meraung menyentak rentak Membuang merangsang segala petua Tiada percaya pada siapa Kutilik diriku kuselam tahunku Timbul terasa terpancar terang Istiwa lama merekah terang Merona rawan membunga sedan Tahu aku Kini hari menuai api Mengetam ancam membelam redam Ditulis dilukis jari tanganku. Karya Asrul Sani

Astana Rela

Tiada bersua dalam dunia Tiada mengapa hatiku sayang Tiada dunia tempat selama Layangkan angan meninggi awan Jangan percaya hembusan cedera Berkata tiada hanya dunia Tilikkan tajam mata kepala Sungkumkan sujud hati sanubari Mula segala tiada ada Pertengahan masa kita bersua Ketika tiga bercerai ramai Di waktu tertentu berpandang terang Kalau kekasihmu hasratkan dikau Restu sempana memangku daku Tiba masa kita berdua Berkaca bahagia di air mengalir Bersama kita mematah buah Seumpana kerja di muka dunia Bunga cerca melayu lipu Hanya bahagia tersenyum harum Di situ baru kita berdua Sama merasa, sama membaca Tulisan cuaca rangkaian mutiara Di mahkota gapura astana rela. Karya Asrul Sani